Cerpen : Aku dan Secangkir Kopi Tanpa Gula

0
1549

Karya : Tia Jupe

Mungkin benar kata mereka, kamu orang yang terlalu penuh perhitungan dalam mengekpresikan cinta dan aku orang yang terlalu berbaik sangka pada cinta. Kita memandang cinta dalam pandangan yang berbeda. Banyak hal yang kadang tak kumengerti tentangmu dalam soal cinta. Kamu sosok pemikir dan tegas dalam hal perasaan, tapi kamu juga kekasih yang romantis, satu – satunya pria yang sanggup melakukan apapun demi aku.

Aku masih ingat hari itu, jam sembilan malam ketika kurasakan perutku melilit sakit hebat, aku di larikan ke sebuah rumah sakit. Tak perlu waktu berjam – jam kamu sudah ada di sampingku, jarak Jakarta – Bandung kamu tempuh dengan cepat, meninggalkan sebuah acara besarmu yang masih berlangsung malam itu.

Dan kamu selalu bisa membuatku tertawa, tak pernah kamu ijinkan airmata menetes sedikit pun di pipiku. Itulah yang membuatku merasa nyaman dan tenang setiap kali berada di dekatmu. Pria terhebat, pria yang akhirnya memberikan namanya untuk kutulis dalam sebuah surat undangan sejajar dengan namaku.

*****

‘Pagi cinta’

‘I Love you’ tak pernah sekali pun kamu absen mengucapkan kata itu, di setiap pagi di setiap hariku. Dan empat tahun pada setiap pagi kusuguhkan kopi kehadapanmu. Secangkir kopi tanpa gula.
Disinilah ‘lebay’mu berbicara.

“Sepertinya darahmu sudah terkontaminasi zat sukrosa dari pohon tebu itu ya Ra’, apapun yang kau berikan selalu saja manis”

Aku hanya tersenyum dengan pipi merona tanpa blush on.

“Tuch, saat aku membicarakan sukrosa pun wajahmu bahkan lebih manis dari buah cherry ini” ucapmu sambil melahap satu buah cherry yang menjadi toping cake fruit sebagai teman kita minum kopi pagi itu.

“Gombal kamu aaahh” aku meraih gelas yang berisi teh hijau cream di hadapanku.

Oohh iya kita mempunyai kesukaan yang berbeda. Kamu menyukai kopi tanpa gula, sedangkan aku lebih suka minum teh hijau dengan cream vanila yang manis lembut.

*****

“Hey, melamun yaa … apalagi yang kau pikirkan Ra” tepukkan lembut Namira membuyarkan lamunanku.

Namira, sahabatku sejak kami masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tahun depan usiaku dan Namira sama – sama memasuki sepertiga abad, dengan zodiak yang sama, hari lahir yang sama pula. Mungkin inilah beberapa hal yang membuat persahabatan kami langgeng hingga sekarang.

Tapi nasib cinta aku dan Namira berbeda. Namira sudah menikah, hidup bahagia dan di karuniai empat orang anak yang sehat dan lucu – lucu. Sedangkan aku … aku menundukkan kepala, menyeka airmata. Di empat tahun kebersamaan kita, sebulan menjelang acara resepsi kamu meninggikan suara di depanku, hal yang tidak pernah kamu lakukan padaku sebelumnya.

Aku seperti di paksa menelan kopi pahit tanpa jeda, tanpa sempat aku bernafas.

Kupejamkan mata, mencoba menghalau sekilas wajahmu yang membayang.

Aku tersenyum menyambut kedatangan Namira, binar bola mataku mengerjap ceria setiap kali kami bertemu, seperti sore ini di sebuah cafe di kota Bandung. Kami asyik berbincang hingga tak terasa malam menjemput, hujan di luar sana masih menyisakan gerimis.

“Ini udah tahun ke lima Ra, sampai kapan kamu akan menunggunya ?” tanya Namira, pertanyaan yang sama setiap kali kami bertemu.

“Dia sudah melupakanmu, come on, move on Ra … mau sampai kapan kamu begini ? Kamu menulis banyak artikel patah hati, kamu memotivasi orang lain untuk bangkit dari rasa sakit tapi kamu sendiri tidak bisa mempraktekkan apa yang ada di pikiranmu” ucap Namira.

“Pemain watak yang sempurna, munafik romantis kamu Ra” Canda Namira dengan mulut tak henti mengunyah.

“Ayolah buka hatimu, kurang apa sich Leonard, Arwin ?” mereka handsome dan sudah mapan … heeuumh” mengedipkan mata, pecicilan.

Itulah Namira sahabatku.

“Eehh bentar, doktermu itu apa kabar … dokter Ibrahim Erlangga, dia pria yang baik ya Ra, kelihatannya dia juga begitu care sama kamu, jangan membuatnya bingung dan menunggu terlalu lama Ra”

Aku mengangkat bahu pelan.

“Biarkan waktu yang menjawabnya, aku belum bisa Na … andai bisa pun, aku ingin bertemu dulu Ara sekali lagi, aku hanya ingin mendengar alasan sejujurnya apa yang membuatnya berubah pikiran. Aku tidak akan memintanya kembali atau memulai semuanya lagi, aku hanya ingin mendengar hal yang sebenarnya … itu saja” jawabku terdengar lirih.

Kembali cubitan – cubitan kecil menyapa rongga hatiku.

*****

Kuagungkan, kukorbankan apapun untuk cinta, kulakukan semua demi sebuah kata cinta. Kuturuti, kusetiakan hati hanya pada seraut wajah, menjaga nama dan kehormatannya demi cinta yang sudah berakar di hatiku, kuat.

Tapi kini aku menjadi orang yang sangat membenci cinta, jauh di lubuk hatiku aku mengutuk cinta berulang kali sejak hari itu, sejak kau katakan kau tidak sungguh – sungguh mencintaiku, sejak kau katakan kau ingin hubungan kita di akhiri, sejak tak ingin lagi kau minum secangkir kopi dari tanganku. Sejak kau tepis secangkir kopi pagi itu dan cangkir berpolet emas itu pecah berkeping dengan noda hitam berserakan di lantai rumah kita.

Aku, orang yang sangat patah hati sejak hari itu. Kugunakan topeng setiap kali aku berada di depan orang banyak. Aku berpura – pura menjadi sosok yang bahagia dan menebar senyum sumringah di balik sorot mataku yang kecewa.

*****

Kuayunkan langkah kakiku cepat, mengibaskan rambutku pelan, aku tak sempat memakai hairdryer untuk mengeringkan rambut. Aku lupa kalau hari ini ada janji konseling dengan keluarga pasein.

Aku, Rindu Razainni, orang mengenalku sebagai ‘Ra’ seorang penulis, beberapa karya tulisku bahkan sudah ada yang di rilis ulang, di sadur menjadi sinopsis sebuah cerita layar lebar. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di dalam kamar, di balik layar laptop atau berteman setumpuk buku sebagai bahan bacaan dan referensi untuk semua karya tulisku.

Selain menulis aku juga aktif di sebuah rumah sakit besar di Bandung. Aku bukan dokter atau perawat, aku hanya seorang relawan kesehatan. Sejak sakit kanker lambung yang kuidap empat tahun lalu, aku aktif dan peduli dengan sesama penderita kanker. Aku belajar banyak hal dari semua rasa sakit yang kualami.

Betapa Tuhan memberi banyak berkat, kehidupan yang indah pada setiap ciptaan-NYA. Kupelajari setiap waktu dan setiap usaha, bagaimana beberapa pasein tetap sanggup semangat dalam menjalani harinya dengan rasa sakit yang tak tertahankan kala penyakit itu kambuh.

Dan berkat Tuhan sungguh luar biasa, aku yang tetap fokus dalam pengobatan, disiplin menuruti semua anjuran dokter yang merawatku dan akhirnya dua tahun yang lalu aku di nyatakan sembuh total dari kanker lambung. Itulah yang membuatku semangat untuk membagikan kisah kesembuhanku pada mereka yang masih berjuang untuk sehat.

Aku tersenyum getir, aku sembuh total karena ada satu hal yang membuatku tetap ingin bertahan hidup. Tapi tidak dengan hatiku, luka itu terus menganga, rasa sakit itu bahkan terus menguntit hidupku.

Kuhapus setitik airmata yang bergelayut di antara kelopak mataku, aku tersenyum menyaksikan perempuan manis yang selesai melakukan konseling denganku siang itu, berlalu dari hadapanku, dengan senyum semangat dan genggaman erat pria yang di akui sebagai suaminya.

*****

Lamat – Lamat terdengar suara ponselku berdering, aku sedang merapikan pakaian malam itu. Besok aku akan meninggalkan Bandung tempat kelahiranku. Sebuah tawaran kerja di sebuah rumah sakit yang memerlukan relawan kesehatan dan konselor sudah aku terima seminggu yang lalu.

Aku akan mencoba memulai kehidupan baru di sebuah kota di wilayah timur Indonesia.

Sesuai saran teman dekatku, Namira. Aku harus memulai semuanya lagi dari awal. Aku ingin melupakan semua kesakitan di kota kelahiranku ini. Mungkin ini bisa jadi salah satu therapy obat hatiku untuk melupakan Ara.

Suara ponselku berhenti ketika ingin kujawab panggilan itu.

‘My doctor’ sebuah nama tertera di layar seluler. Aku mengernyitkan dahi.

“Tumben menelponku berulang – ulang begini” batinku.

My doctor tak lain adalah dokter Ibrahim Erlangga. Dokter yang merawatku bertahun – tahun lamanya, yang kemudian menjadi kawan dekatku, dengannya pula aku berbagi semua kesakitanku.

‘Triing’ sebuah pesan masuk di selulerku.’Jangan pergi dulu, kita harus bicara sebentar saja … please’

Aku menghela nafas panjang, masih kutatap layar seluler tanpa ingin aku berniat membalas pesan yang di kirim dokter Ibrahim.

*****

“Aku menyayangimu, sejak pertama kali kamu datang untuk berobat, aku tahu semua kesakitan dan kelukaanmu, aku bersungguh – sungguh ini bukan tentang rasa kasihan Ra … kumohon kamu percaya, aku sayang kamu” Ucap dokter Ibrahim mengalir lembut seperti green tea latte dengan smoothie cream vanila yang terhidang di depanku malam itu.

Mengatupkan bibirku yang seketika terasa kaku. Kutatap dalam wajah dokter Ibrahim. Pria berahang tegas dengan barisan gigi rapi bak mutiara. Dokter dengan nilai cum laude lulusan S2 sebuah Universitas bergengsi di German.Dokter Ibrahim yang rela malam – malam datang dengan wajah penuh khawatir selepas aku menelponnya menangis berteriak karena sakitku yang kambuh.

Sekilas pandanganku kembali pada malam itu.

Dadaku berdegup kencang, darahku berdesir hangat saat bibir kami bersentuhan lembut malam itu. Malam yang menyisakan gerimis, lampu kuning jalanan membuat jejak – jejak rintik hujan tampak jelas. Aku memejamkan mata, kunikmati setiap detik debaran dan hangat pelukan dokter Ibrahim.

“Aku tidak bisa, maaf … aku” dengan nafas terengah, aku mundur beberapa langkah dan berbalik meninggalkan dokter Ibrahim yang masih berdiri di bawah rintik hujan.

“Apa yang kau pikirkan ?!” Dokter Ibrahim menyentuh ujung jemariku, membuatku gelagapan kikuk.

“Tidak ada” rona merah di pipiku sudah lebih dulu mewakili apa yang tadi terlintas di ingatanku.

“Kamu mengingat malam itu khan Ra ?! “Itu hal terindah yang pernah kita lewati, hari – hari yang selalu aku rindukan” menyunggingkan senyum.

‘Sejujurnya aku yang selalu merindukan hari itu Ibrahim, aku ingin selalu bisa melihat senyummu dari dekat, mendengar ocehan khawatirmu ketika aku lupa minum obat, aku ingin berada di pelukanmu tanpa batas aku pasein dan kau Dokter … aku’ menelan ludah membasahi tenggorokan yang terasa tersekat, dan ucapan itu hanya bisa kukatakan dalam hati.

*****

Dokter Ibrahim tertunduk, memainkan ujung jemari tangannya.

“Kepergian tunanganku untuk selamanya sudah membuat aku mati dalam segala hal, aku gagal menyelamatkan nyawanya, aku bahkan tidak berada di sampingnya ketika dia menghembuskan nafas terakhir, aku berada di German hanya demi untuk mendalami obat apa yang bisa meghilangkan rasa sakitnya … aku meraih segalanya, aku sudah tahu apa obat yang bisa menyembuhkannya, tapi aku terlambat Ra, dia pergi tanpa tahu aku bisa menyembuhkan penyakit kankernya”

Dengan kedua telapak tangannya dokter Ibrahim menutup wajahnya, sepercik sesal mengintip di antara wajahnya yang lelah.

“Dan bertemu denganmu adalah hal yang lain dan berbeda, Itulah kenapa aku ingin selalu kamu ada Ra, aku ingin kamu bertahan … Semangat, keyakinan, dan hati yang percaya Tuhan akan membantu menyembuhkan segala kesakitan yang kita rasakan” kali ini Dokter Ibrahim menatap tepat ke arah mataku.

“Kamu membuktikannya, aku bangga padamu. Tak lelah kamu sanggup berjuang bahkan ketika kamu harus tertatih menyembuhkan luka hatimu, kamu tetap setia dan menunggu Raditya pulang … Kamu, perempuan yang hebat Ra”

Perkataan Dokter Ibrahim kali ini membuatku terhenyak kaget, bukan karena cerita Dokter Ibrahim terkait kepergian Vivian tunangannya, kalau itu aku sudah mendengarnya saat dokter Ibrahim memelukku erat di ruang lab ketika selesai membacakan hasil medisku.

Tapi Raditya, kenapa nama Raditya dia sebutkan sementara aku tidak pernah sekali pun menceritakan siapa Raditya.

*****

Aku masih terdiam, butiran hangat di pipiku terus mengalir tanpa bisa kutahan. Rekam medis berserakan di atas meja kerjaku. Berulang kali aku baca, kuperhatikan setiap tulisannya satu persatu. Hatiku sudah tak terkira sakitnya, seperti ribuan jarum yang di paksa di tancapkan di setiap sel – sel pembuluh darahku.

Raditya Anggara. Aku berulang kali memastikan nama yang tertulis di semua lembarnya.

“Ini semua rekam medisnya, Ara sudah meninggal empat tahun yang lalu, ketika kamu koma di hari ketiga kamu masuk rumah sakit ini” dokter Ibrahim pelan menyodorkan beberapa tumpukan dokumen rekam medis seorang pasein ke hadapanku.

“Dia meninggal karena mobil yang di kendarainya menabrak pilar beton di persimpang jalan Seroja jam satu pagi, menurut keluarganya dia tergesa – gesa pergi setelah mendengar kamu berada di rumah sakit dan koma”

“Ra, kami melakukan pemeriksaan pada jenazahnya, maaf kalau kami merahasiakannya, Ara positif terjangkiti Virus HIV AIDS dari lima tahun yang lalu, ini disini ada tanggal pertama kali dia datang cek up dan berobat” tampak berhati – hati sekali dokter Ibrahim berucap, sementara tangannya tak lepas memegang erat telapak tanganku yang terasa basah berkeringat.

Menyeka airmata, inilah jawaban itu. Inilah alasan Ara meninggalkanku tiba – tiba.

Limbung, kakiku tak mampu menopang berat tubuhku, suara hiruk pikuk lalu lalang orang di lorong rumah sakit perlahan senyap, sampai akhirnya aku tak lagi merasakan apa – apa. Semua gelap dan hening.

*****

Aroma minyak kayu putih menyeruak melalui penciumanku, perlahan kubuka mata yang terasa silau dengan lampu di dalam ruangan.

“Ra, Razainni … kamu sudah siuman, kuat yaa Ra, kita semua ada di sini untuk kamu, aku sayang kamu Ra” Wajah teduh dengan bola mata cokelat itu menatapku penuh kekhawatiran.

“Ibrahim, terima kasih kamu selalu ada, menjagaku dan mencoba menjauhkanku dari rasa sakit yang lain, bantu aku sekali lagi, aku ingin berbicara dengan Ara” ucapku pelan.

*****

Di bawah gerimis, di depan sebuah pusara. Kulantunkan doa pada cinta yang sudah terkubur di dalamnya. Tanah merah menjadi akhir jejak penantianku.

Kuucapkan pamit, kututup setiap lembar kisah pahit dalam secangkir kopi. Kopi tanpa gula.

Kupejamkan mata, menghirup dalam aroma tanah basah yang mulai damai bercengkrama dengan tetasan air hujan.

*****

TAMAT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here